Kamis, 25 Februari 2010

REGRET

Dilema melandaku saat ku ingin memulai cerita ini. Melihat tuts-tuts yang berjajar rapih di depan layar monitor. Seperti keadaanku yang sedang dilanda kebimbangan, ribuan bahkan jutaan kata tanya hinggap di otakku. Seperti mendapat soal matematika yang amat sangat sulit yang tak bisa aku kerjakan dan mungkin takkan pernah menjumpai jawabannya. Kebimbangan ini sangat menyiksa batinku.
Ini semua bermula disaat aku mengenal dia. Namanya Adi, cowok  posesif, mungkin terlalu sayang tetapi mungkin juga sebaliknya. Aku bingung menceritakan perjalanan ini, indah, sangat indah tapi berakhir derita. Dia yang selalu berada disampingku dimanapun aku berada ternyata menduakan cintaku yang tulus. Ini semua sudah kuduga sejak seorang temannya dengan tidak sengaja mengirim sebuah sms di ponsel milik adi yang kubawa saat itu. Seakan-akan mereka berdua ada hubungan special. Setelah sekian lama kupendam kecurigaanku, muncul cewek lain dan dengan cerita lain pula, kali ini terungkap lewat mulut Adi sendiri walaupun dengan sedikit kupaksa. Perih yang kurasa, hatiku seperti dicabik-cabik, kejadian itu tepat disaat aku beulang tahun. Sungguh diluar dugaanku, ternyata selama ini dia telah mengkhianati aku. Selama lima bulan dia telah membohongi aku dan menjelek-jelekkan aku. Bahkan dihari ulang tahunku. Aku mencoba mengerti apa yang terjadi. Mencoba bertahan dan menjadi cewek yang kuat walaupun sakitnya benar-benar menyiksa batin.

Waktu terus berlalu, haripun berganti, aku bertemu dengan seseorang yang jauh dibawah tetapi disaat itu jauh lebih baik dari Adi. Namanya ahmad, cowok mandiri, perhatian tetapi lama-kelamaan aku merasa tidak ada kecocokan diantara kita berdua. Dan tak lama kemuadian berpisah, ceritaku dengannya tidak lama. Dia terlalu terhanyut dengan dunianya yang bebas, dan meninggalkan aku. Tapi rasa sakit itu tidak sesakit saat aku berpisah dengan Adi.
Aku termasuk penggemar dunia maya, facebookers tepatnya. Disitulah aku dapat menghabiskan waktuku dan bertemu … tyo. Seniorku yang pernah kubenci karena pernah membentakku dengan kasar. Begitu dekat aku dengannya samapi tak sadar wall to wall ku mencapai 800. Kita bercanda, bercerita soal kampus, orang-orang sekitar, film, music, bahkan tak segan mencurahkan isi hati masing-masing. Dari situlah rasa itu muncul, tetapi mereka bilang padaku tyo tak sebaik yang aku kira tetapi aku tak menghiraukan sampai pada suatu saat dia bercerita sendiri tentang kekurangan dia kepadaku dan dia berjanji sedikit demi sedikit akan merubah sifatnya. Aku menyadari dan memahami semua kekurangannya bahkan aku tak peduli dengan yang mereka katakana padaku dulu dan aku percaya bahwa dia akan berubah, sampai pada suatu hari itu semua terjadi seperti bom waktu yang meletus. Sakit tapi aku terlanjur memilihnya dan mungkin ini resiko yang harus kuhadapi, karena bagiku “hidup adalah pilihan dan setiap pilihan ada resikonya”. Sabar dan ikhlas kulakukan atas nasehat yang diberikan oleh Adri. Adri adalah teman dekat tyo yang mendekatkan aku dengan tyo. Sebenaarnya dulu aku sempat mengagumi Adri karena keenceran otaknya, tetapi aku menyadari dia takkan pernah tertarik padaku karna aku tak sepintar dia. Banyak nasehat yang di berikan untukku saat tyo menghilang pergi meninggalkanku. Dia yang memberiku semangat untuk bertahan tetap mencintai tyo dengan tulus ikhlas dan sabar menghadapi semua sifat tyo.
Sampai hari itu tiba, benar-benar kuingat. Hari selasa disaat mata kuliah ekonomi pembangunan dimulai, aku merasa ada hal yang mengganjal dihatiku ini. Seperti ada yang menyuruhku untuk keluar kelas dan mengelilingi kampus untuk mencaari tyo. Tak lama kemudian teman sekelasku memanggil “nhe, ikut kekantin yuk !! ada hasan”. Tak pikir pajang aku memenuhi ajakannya dan segera keluar kelas dean bergegas ke kantin kampus yang bertempat di lantai 1. Aku tak tahu dosa apa yang aku perbuat, salah apa yang aku lakukan, seperti ada petir disiang bolong. Aku melihatnya berdua dengan maya, mantan pacarnya yang dulu sangat disayanginya. Tubuhku seperti membeku, bibirku tak dapat berucap, kaki tak dapat melangkah dan aku menutup mata untuk sesaat lalu duduk di kerumunan mahasiswa-mahasiswa yang juga sedang berada di kantin tersebut entah untuk makan, minum, ataupun hanya sekedar mengobrol. Dan saat itu yang ada dipikiraanku hanya “aku ingin menelepon Adri, karna hanya dia yang sanggup menenangkanku”. Aku ingin berlari kearaah kelas dan mengambil ponselku, tapi aku tak bisa. Sampai aku menguatkan diri untuk melangkah dan kembali ke kelas yang ternyata kelaspun telah usai.
Dengan penuh emosi aku mengirim sebuah sms kepada Andri yang berisi “mas, aku boleh nelpon ?”, lalu dibalas dengan cepat “silahkan.. “. Aku menangis, aku bercerita dengan penuh amarah yang tak seharusnya aku luapkan ke dia, diapun menenangkanku. Tetapi ditengah percakapan itu ada sebuah sms masuk dan kubaca, ternyata tyo yang berisi tentang sesuatu yang tak pernah kulakukan, aku diam dan aku ceritakan kepada Andri, Adripun menanggapinya. Dia menenangkanku dan menyuruhku untuk segera pulang karena hari sudah beranjak sore.
Dirumah aku terus memikirkan apa yang harus aku lakukan, aku tak bisa memutuskan hubungan ini karena aku terlalu menyayangi tyo. Aku diam dan aku mengingat semuanya, aku tak tahu aku salah apa. Saat dia menyuruhku tunggu, aku menunggunya dengan senang hati, saat dia menyuruhku dating, aku dating. Dan hari itu tiba, ponselku berbunyi tepat pada pukul 10 hari minggu, berisi “aku masih saying kamu, tetapi maaf kamu terlalu baik buat aku dan seharusnya kamu dapat ciwok yang terbaik pula dan itu bukan aku.”. rasanya seperti kertas yang disobek lalu dibakar, luka ini terbuka lagi. Aku mengiyakan kemauan dia dan cerita aku dan diapun berakhir. Tepat, saat dia ingin aku pergi, aku akan pergi dan aku telah pergi. Takkan aku sangka ini terjadi, seperti hujan yang membawa dingin yang takkan reda.
Hari demi hari kulewati bersama teman-temanku yang selalu memberiku semangat untuk menjalani hari-hariku, termasuk Andri, dia tidak meninggalkanku sendiri, selalu membuatku tersenyum. Sampai pada suatu hari dia mengajakku untuk pergi jalan-jalan, aku bahagia tapi aku bertanya dalam hati “kenapa kamu ?, kenapa bukan dia ?”. ceritaku seperti cerita bella saat ditinggal oleh Edward dan ditemani oleh Jacob di film newmoon. Dan itu juga hamper disadari oleh Adri, aku selalu berselisih paham dengannya mengenai cinta. Aku yang menutup pintu hatiku untuk siapapun karena ingin menyembuhkan luka ini tetapi dia tak ingin kumenutupnya dan berkata dengan penuh keyakinan bahwa seseorang akan datang dan menjagaku.
Setelah kejadian itu aku tak begitu attracted dengan cowok. Aku berteman dengan semua cowok, dan aku bertemu Aris, teman SMA Adri. Dari situlah semua terlihat bagaimana Adri memandangku dan sebagai apa aku dimata dia. Tak kusangka dia menyayangiku tanpa mengungkapkan semua, sejenak aku mengingat saat-saat dia mengajakku jalan-jalan, rela memberikan jas hujannya untukku agar aku cepat pulang kerumah dan diapun kehujanan. Lalu aku mengingat kata-katanya saat dia menelponku “cinta itu adalah pengorbanan, seperti aku rela berkorban buat kamu, hhehehe”. Betapa bodohnya aku sampai aku tak menyadari semua itu. Aku selalu berdoa kepada tuhan meminta yang terbaik untukku.
Semua kejadian ini sangat mengganggu pikiranku, disudut ruang kamarku aku mengingat semua hal, aku menangis dan bertanya kepada tuhan “tuhan, kenapa ini semua terjadi?”. Sempat terpikir olehku untuk menghilang dari semuanya, aku ingin sepi. Yang aku inginkan hanya keluarga dan teman-temanku, aku takut sakit hati, sakit ini sangat menyiksaku seperti tak ada oksigen disekitarku. Akupun bertanya kepada hatiku “apakah aku mencintai Adri?”. Dan hati ini mengatakan “kamu butuh dia”, tapi aku tak bisa tuk memilikinya. Bagiku dia terlalu indah. Aku tak boleh mencintainya, aku berusaha mencoba menyingkirkan rasa ini.
Sebulan telah berlalu, tak kusangka selama itu aku tak bertemu Adri. Inginku menemuinya tapi siapa aku? Walaupun kita selalu berhubungan lewat dunia maya ataupun sms. Semakin dekat semakin aku merasa ini semakin aneh, kenapa aku terus ingin menemuinya, kenapa aku terus memikirkannya.
3 hari lagi valentine tiba, apa yang akan terjadi ?, benarkah yang dikatakan Aris kepadaku kalau dia akan memberiku sebuah kejutan yang indah ?. ponselku bordering, ternyata dia yang menelepon. “assalamuallaikum” jawabku dengan nada pelan. “wallaikumsalam, ngapain nhe ?”. “emm...engga ngapa-ngapain mas”. Percakapan itu berlanjut hingga 2 jam kemudian, dia sempat bertanya kepadaku tentang hal yang romantic, lebih tepatnya menanyai pendapatku tentang candle light dinner. Aku menjawab sesuka hatiku tanpa menyadari bahwa pertanyaan itu sungguh-sungguh ingin diketahui jawabannya oleh sang penyanya. Aku menjelaskan semua tentang diriku yang nota bene bukan cewek romantic dan easy going soal hal yang berbau romantic. Dan setelah kujawab, dia memutus telepon lantaran dia ingin tidur dan aku mengiyakan keinginannya dengan sedikit curiga.
Sejak saat itu dipiranku di penuhi oleh kata tanya, apakah yang akan terjadi esok dimalam valentine?. Belum tuntas masalahku tentang valentine, tyo kembali dating dan ingin merajut jaalinan kasih yang dahulu sempat putus. Jauh di lubuk hatiku yang paling dalam aku tak ingin dan ingin melaksanakan balas dendam. Aku ingin dia merasakan sakit yang kurasakan dulu tetpai teman-temanku menolak dan melarangku untuk melakukannya. Mereka juga marah terhadap apa yang dilakukan oleh tyo kepadaku tapi mereka masih punya rasa iba, berbeda denganku, hatiku dipenuhi oleh rasa benci, muak, dan kata-kata kasar dan kotor yang ingin kulontarkan kepadanya. Saat ini hanya Adri yang ada dihati dan pikranku, dan aku masih menuggu kejelasan semua itu.
Dan valentinepun tiba, sepi sendiri, diapun tak datang. Kenapa aku mengharapkan kedatangan dirinya? Kenapa aku menunggunya?, akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari semua ini, aku tak sanggup dan aku tak boleh terlalu lama berada dalam situasi seperti ini. Aku harus menyadari bahwa dia takkan pernah menjadi milikku, dan aku tidak boleh memaksakan kehendakku. Biarlah dia bahagia dengan orang lain yang mungkin jauh lebih baik dari aku, dan aku tak menyesali bahwa aku pernah mencintai dia walaupun tak pernah merasakan hangat pelukannya. Aku menyesali kenapa aku terlalu bodoh, kenapa aku tak menyadarinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar